UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN COOPERATIF
TIPE COURSE REVIEW HOARAY PADA SISWA
KELAS
VII SEMESTER GENAP SMP NEGERI 1
PUBIAN LAMPUNG TENGAH
TP.2014/2015
Diajukan
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metode
Penelitianan
Matematika

Oleh :
Eza Dian Permadi
NPM : 121100173
FAKULTAS TARBIYAH DAN
KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
2014/2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan disorong oleh adanya sistem
pendidikan maju dan modern di tengah - tengah masyarakat yang berguna untuk
menjawab tututan dan kebutuhan masyarakat yang modern dewasa ini dengan permasalahannya
yang kompleks. Untuk mewujudkan itu diperlukan usaha yang keras dan memakan
waktu yang lama karena memerlukan proses yang panjang. Diantara usaha yang
dilakukan adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia yang professional
terutama di bidangnya.
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) berupaya meningkatkan
kualitas mutu pendidikan di Indonesia, sehingga pendidikan menduduki posisi
penting diantara komponen - komponen yang lainnya. Dapat dikatakan bahwa
segenap komonen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakuakn semata-mata terarah
kepada atau di tunjukkan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam usaha pencapaian
tujuan tersebut, banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah diantaranya adalah
pemenuhan sarana dan prasarana, peningkatan mutu guru dengan jalan diklat,
penataran dan seminar pendidikan. Di sistem pendidikan itu sendiri pemerintah
sangat gigih dalam mencapai jalan terbaik untuk sistem pendidikan di Indonesia,
diantaranya perubahan kurikulum, dengan harapan dan tujuan pemerintah adalah
untuk meningkatkan mutu dan pencapaian pendidikan di Indonesia.
Pendidikan di Provinsi Lampung masih dalam kategori rendah. Menurut
Bappeda Lampung sekitar 62,7% dari 7,4 juta jiwa masyarakat Lampung tidak lulus
atau hanya lulus Sekolah Menengah Pertama. Masalah ini adalah dampak dari
buruknya infrastruktur pedesan, sebagai salah satu penujang ekonomi dan
pendidikan.
Pada sector pendidikan khususnya pendidikan formal di sekolah,
proses belajar mengajar siswa diatur dan di rencanakan supaya tujuannya tercapai,
yaitu sejumlah perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Hal
yang paling pokok di sekolah adalah siswa harus belajar di sekolah, sedangkan
guru dapat mengajar siswa dengan baik, terarah, dan terencana.
Salah satu karakteristik matematika adalah yang mempunyai obyek
yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan bahwa siswa mengalami
kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa secara nasional maupun
internasional belum menggembiraka. Third International Mathematichs And
Science Study (TIMSS) tahun 1999
melaporkan bahwa rata-rata skor matematika siswa tingkat 8 (SLTP kelas 2)
Indonesia jauh di bawah rata-rata siswa internasional dan berada rengking 34
dari 38 negara (dalam Asmin, 2005)
Sejalan dengan itu, Matematika merupakan ilmu yang mendasari
perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai
disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan
teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika sejak dini.
Pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang diberikan pada
setiap jenjang pendidikan dari mulai pendidikan dasar, menengah pertama,
menengaha atas dan perhutuan tinggi. Secara terus menerus menjadi bahan kajian,
karena hal tersebut diatas maka berbagai upaya ditempuh oleh pemerintah untuk
meningkatkan lagi sistem pendidikan di Indonesia diantaranya adalah perbaikan
kurikulum dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang memberikan peluang
yang lebih besar kepada siswa untuk memperoleh materi, yang sesuai dengan
bakat, minat, dan kemampuannya, selain itu pemerintah juga melakukan program
antara lain mengadakan penataran guru bidang studi, pemantapan kerja guru,
pengadaan buku, dan sarana pendidikan.
Usaha sekolah sejauh ini SMP Negeri 1 Pubian telah melakukan
berbagai upaya yaitu penyediaan buku pelajaran, perpustakaan, penyediaan
fasilitas belajar di kelas dan guru professional. Akan tetapi, walaupun
berbagai usaha telah melakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan pada
kenyataannya masih terdapat banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar
sehingga memperoleh hasil belajar yang rendah pada pelajaran tertentu salah
satunya adalah rendahnya hasil belajar matematika.
Berdasarkan pra-survey pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pubian
menentukan hasil belajar matematika dalam table berikut:
Tabel 1. Data
Hasil Ulangan Harian Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Dari 28 Siswa Kelas VII
SMP Negeri 1 Pubian Tahun Pelajaran 2014/2015 dengan KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) = 7,5.
|
No
|
Nilai
|
Kriteria
|
Jumlah siswa
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
≥ 75
|
Tuntas
|
8
|
28,57
|
|
2
|
< 75
|
Tidak tuntas
|
20
|
71,43
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
||
Sumber : Daftar
Nilai Ujian Matematika Kelas VII Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015.
Berdasarkan table dia atas dapat dilihat bahwa siswa yang
mendapatkan nilai > 75 sebanyak 8 siswa atau 28,87 % dari 28 siswa yang
mendapatkan nilai <75 sebanyak 20 siwa atau 71,43% dari 28 siwa. Jadi
terlihat bahwa siswa yang mencapai ketentuan belajar hanya 71,43% maka
ketentuan belajar siwa kelas VII SMP Negeri 1 Pubian belum tercapai. Maka perlu
mendapatkan suatu petbaikan dalam proses
pemblajaran agar mendapatkan ketuntasan pelajaran.
B. Identifikasi Masalah
Setelah diadakan observasi dan wawancara dengan para guru maupun
siswa yang hasil belajarnya belum tuntas bahwasanya usaha yang dilakukan guru
dalam kegiatan pemblajaran sudah dilakukan semaksimal mungkin, yaitu dengan
menggunakan berbagai macam metode yang sesuai dengan fasilitas belajar yang
cukup seperti pengadaan buku paket LKS. Selain itu guru juga memberikan tugas
kepada siswa, baik individual maupun kelompok. Namun hasilnya juga belum sesuai
dengan yang diharapkan.
Factor- factor yang
mempengaruhi hal tersebut di antaranya :
1.
Terdapat
siwa yang tidak memperhatikan saat pembelajaran.
2.
Terdapat
siswa yang tidak bisa mengerjakan soal baik tugas maupun latihan.
3.
Terdapat
siswa yang cenderung menyalin jawaban guru dari pada mengerjakan sendiri.
4.
Siswa
yang panadai lebih mendominasi dalam pembelajaran maupun pekerjaan soal.
C. Pembatasan Masalah
Untuk itu, pendekatan pembelajaran yang perlu diterapakan agar
siswa lebih aktif dan berminat mengikuti pembelajaran sekaligus meningkatkan
hasil belajar siswa adalah pendekatan pembelajaran cooperative learning tipe couse review horey.
Menurut Suyatno “model pembelajaran kooperatif
adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling
membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan.”[1]
Dalam kelompok belajar kooperatif, keberhasilan kelompok tergantung pada setiap
individunya sehingga tiap anggota kelompok diharapkan mampu memberi suatu karya
bagi keberhasilan kelompok dan tiap kelompok harus tahu teman yang memerlukan
bantuan karena kegagalan seorang anggota kelompok dapat mempengaruhi prestasi
semua anggota kelompok, sehingga terjalin kerja sama dan tolong menolong dalam
proses pembelajaran. Hal ini selaras
dengan firman Allah sebagaimana yang terkandung dalam surat Al-Maidah ayat 2:
(#qçRur$yès?ur n?tã ÎhÉ9ø9$# 3uqø)G9$#ur ( wur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ßÏx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ
Artinya : “Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” [2]
Ayat ini
merupakan dalil yang jelas akan wajibnya tolong menolong dalam kebaikan dan
takwa serta dilarang tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.
Dalam ayat ini Allah Swt. memerintahkan seluruh umtnya agar tolong menolong
dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, saling memberi semangat terhadap apa yang
diperintahkan oleh Allah serta beramal dengannya. Dan sebaliknya, Allah
melarang kita tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Tolong
menolong dalam kebaikan ini termasuk didalamnya adalah proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran kooperatif ini peserta didik dibentuk kedalam beberapa
kelompok dimana peserta didik harus bekerja sama saling membantu dalam
menyelesaikan persoalan.
Metode cooperative learning
tipe couse review horey, menekakan pada proses kerjasama dalam kelompok,
untuk lebih mempererat hubungan dalam kelompok, siswa diminta untuk menciptakan
sorak khas kelompok. Siswa juga dituntut bekerja sendiri bersama kelompok
sehingga peserta didik harus menemukan sendiri jawabanya benar atau salah
sehingga tidak mungkin menyalin jawaban dari guru. Selain itu, setiap siwa
diwajibkan menjawab secara lisan dan disimak siswa lain, apakah jawabanya benar
atau salah sehingga tidak hanya siswa yang pintar yang mendominasi
pembelajaran. Dengan begitu, pembelajaran akan menjadi lebih aktif, siswa juga
akan berusaha menjawab dengan benar agar dapat menyorakkan yel-yel.
Berdasarkan uraiyan diatas, penelitian dengan guru mitra menerapkan
pendekatan pembelajaran learning tipe
course review horey untuk meningkatkan minat dan hasil belajar kelas VII
SMP Negeri 1 Pubian.
D. Rumusan
Masalah
1.
Apakah
belajar matematika melalui pembelajaran learning
tipe course review horey pada siswa dapat meningkatkan aktifitas belajar
siswa?
2.
Apakah
belajar matematika melalui pembelajaran learning
tipe course review horey pada siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
E. Tujuan
Penelitian
1.
Untuk
mengetahu belajar matematika melalui pembelajaran learning tipe course review horey dapat meningkatkan aktivitas
siswa.
2.
Untuk
mengetahui belajar matematika melalui pembelajaran learning tipe course review horey pada siswa dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
F. Manfaat
penelitian
1.
Bagi
siswa
Dapat
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dan melalui upaya memecahkan
permasalahan serta membuat produk sederhana siswa dapat menentukan konsep
pengetahuan yang diperolehnya.
2.
Bagi
guru
Guru dapat
menggunakan dan mengembangkan pembelajaran melalui pendekatan learning tipe course review horey dalam
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.
G. Ruang
Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian :
Penelitian Tindakan Kelas
Subjek Penelitian : Siswa
Kelas VII SMP Negeri 1 Pubian
Objek Penelitian : Kelas VII Di SMP Negeri 1 Pubian
Waktu Penelitian : Semester
Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015
Tempat Penelitian : SMP
Negeri 1 Pubian
Pokok Bahasan : Bangun
Datar
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
KAJIAN PUSTAKA
A.
Tinjauan Pustaka
1.
Pengertian Belajar
Belajar
adalah proses perubahan yang melibatkan faktor interaksi antara subyek dengan
lingkungan. Sebagai suatu proses dalam belajar dituntut adanya suatu aktivitas
yang harus dilakukan oleh siswa sebagai usaha untuk meningkatkan prestasi
belajarnya. Proses belajar berlangsung secara efektif apabila
pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang diinginkan di sesuaikan dengan
kematangan siswa. Siswa perlu mengembangkan keyakinan, kebiasaan, dan gaya
belajarnya.
Menurut
Roger dan David Johnson (dalam Lie, 2004:6) menyatakan
bahwa:
Pembelajaran
cooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang
terstruktur. Ada lima unsur pokok yang termasuk dalam struktur ini yaitu:
saling ketergantungan positif, tanggung jawab, individual interaksi personal,
keahlian bekerjasama dan evaluasi proses kelompok.
Kemudian
Solihatin dan Raharjo (2005:4) menyatakan bahwa pada dasarnya pembelajaran
cooperatif mengandung pengertian:
Suatu
sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam
struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yaitu terdiri dari dua orang atau
lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari
setiap anggota kelompok itu sendiri.
Hilgred
dan Browe (dalam Hamalik, 1992:12) mengemukakan bahwa “belajar merupakan
perubahan, perubahan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.”
Dengan
demikian dapat diartikan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh
seseorang untuk merubah dirinya menuju suatu tujuan dari masa sebelumnya yang
berupa ilmu pengetahuan maupun tingkah laku.
Soetomo (1993:20) mengatakan
“mengajar sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan anak
dapat belajar.”
Menurut Dequily dan Bazoli (dalam
Slameto, 1987:6) “mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan
cara paling singkat dan tepat.” Dalam hal ini pengertian waktu yang sangat
penting.
Dalam uraian di atas mengajar
berarti suatu aktivitas untuk menanamkan pengetahuan, serta mengembangkan
keterlampilan. Dalam hal ini siswa diharapkan untuk dapat merubah tingkah laku
agar didapatkannya suatu perubahan, dan guru diharapkan untuk mendapatkan
mempunyai tujuan yang akan dicapai dalam proses belajar mengajar.
Dari pengertian belajar dan mengajar yang telah diuraikan di atas,
maka pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari kegiatan belajar dan
mengajar. Keduanya merupakan suatu proses yang berdiri sendiri namun saling
berkaitan. Dalam proses tersebut memiliki suatu tujuan, adanya interaksi,
adanya materi yang akan diajarkan.
2.
Cooperative Learning
Cooperative Learning adalah
belajar bersama dan saling membantu antara satu siswa dengan siswa yang
lainnya. Di dalamnya guru dapat memberikan tugas pada siswa untuk diselesaikan
secara bersama-sama dalam kelompok kecil.
Model pembelajaran Cooperative
Learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur
dasar pembelajaran Cooperative Learning yang membedakannya dengan pembagian
kelompok yang dilakukan asal-asalan.
Pelaksanaan prosedur model Cooperative
learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan
lebih efektif.
Menurut Roger dan David Johnson yang dikutip Anita Lie (2004:31)
mengatakan bahwa “tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative
Learning.” Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaraan
gotong royong harus diterapkan.
a)
Saling
ketergantungan positif.
b)
Tanggung
jawab perseorangan.
c)
Tatap
muka.
d)
Komunikasi
antar anggota.
e)
Evaluasi
proses kelompok.
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Cooperative
Learning merupakan pembelajaran yang menekankan bekerja sama atau
pembelajaran secara kelompok yang memiliki saling ketergantungan positif,
tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap model pembelajaran Cooperative Learning merupakan suatu
model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikap
yang sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja sama
di antara sesama anggota akan meningkatkan motivasi, produktivitas dan hasil
belajar.
Di dalam
pembelajaran Cooperative Learning,
terdapat bermacam-macam tipe salah satunya adalah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Course Review
Horay (sapaan dan sorak kelompok). Course
Review Horay merupakan bagian dari pembelajaran Cooperative Learning yang dapat memacu kreativitas ataupun
aktivitas siswa serta menumbuhkan semangat belajar siswa dikelas.
3.
Course Review Horay
Course
Review Horay adalah suatu model pembelajaran kooperatif dengan pengujian
pemahaman menggunakan soal, jawaban soal tersebut dituliskan pada kartu yang
telah dilengkapi oleh nomor, nomor tersebut berupa nomor soal yang telah ditentukan
oleh guru. Setelah itu jawaban langsung didiskusikan bersama. Apabila jawaban
siswa benar maka akan mendapatkan tanda (V) dan langsung berteriak horay. Siswa
dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 siswa, kemudian
disuruh membuat kartu sesuai dengan kebutuhan dan tiap kartu diisi dengan nomor
soal yang telah ditentukan oleh guru. Kemudian guru membacakan soal secara acak
dan siswa menulis jawaban didalam kartu yang nomornya disebutkan guru kemudian
jawaban langsung didiskusikan bersama, kalau benar jawaban diisi tanda benar
(V) dan salah diisi tanda silang (X). Siswa yang sudah mendapatkan tanda benar
(V) langsung berteriak horay. Dengan model pembelajaran ini diharapkan siswa
lebih semangat dalam belajar karena pembelajarannya tidak monoton diselingi
sedikit hiburan sehingga suasana tidak menegangkan.
Wina
Sanjaya (2004:145) disebut bahwa “keberhasilan implementasi strategi
pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran,
karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan
melalui penggunaan metode pembelajaran.”
Menurut
Suyanto (2007:126) langkah-langkah dalam pembelajaran ini adalah :
1)
Guru
menyiapkan kompetensi yang ingin dicapai
2)
Guru
mendemonstrasikan/menyajikan materi sesuai topik
3)
Memberikan
siswa tanya jawab
4)
Guru
membagi siswa dalam kelompok-kelompok
5)
Untuk
menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan
dan setiap kartu diisi dengan angka dengan selera masing-masing
6)
Guru
membacakan soal secara acak dan siswa menulis jawaban didalam kartu yang
nomornya. Disebutkan oleh guru kemudian didiskusikan, kalau benar di isi tanda
(V) dan salah diisi tanda (X)
7)
Siswa
sudah mendapat tanda (V) harus bersorak horay
8)
Nilai
siswa dihitung dari jawaban dan jumlah horay yang diperoleh.
9)
Penutup
Langkah-langkah pembelajaran Course
Review Horay (dalam http://rhum4hnd3soq.blogspot.com/2010/10/course-review-horay.html) sebagai berikut:
Informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan,
siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak,
guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama
dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi
skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian
reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
Menurut Nindin (2008:145) metode pemberian tugas mempunyai beberapa
kebaikan dan kelemahan antara lain :
(1)
Pembelajarannya
menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya.
(2)
Melatih
kerja sama.
Berapa kelemahan dari metode pembelajaran tugas:
(1)
Siswa
aktif dan pasif nilainya disamakan.
(2)
Adanya
peluang untuk curang.
4.
Aktivitas Belajar
Belajar memerlukan aktivitas, seperti yang dikemukakan oleh
Nasution (1982:88) “Belajar merupakan suatu kegiatan atau aktivitas. Tanpa
kegiatan atau aktivitas tidak mungkin seseorang belajar”.
Senada dengan hal tersebut, Ardiwinata (1986:3) mengatakan bahwa
“belajar adalah suatu proses aktivitas yang menyebabkan terjadinya perubahan
pada diri orang yang belajar dalam pengetahuan, kecakapan, kebiasaan, sikap,
pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri atau segala aspek kepribadian
seseorang yang bisa diharapkan dapat diterapkan dalam berbagai situasi
kehidupannya, diluar perubahan yang negatif maupun perubahan. Karena kebetulan
dan proses kematangan atau insting”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut, dapat terlihat bahwa aktivitas
belajar adalah segala kegiatan belajar yang saling berinteraksi sehingga
menimbulkan perubahan dari perilaku belajarnya, misalnya tidak tahu menjadi
tahu, dari tidak mampu melakukan kegiatan jadi mampu melakukan kegiatan, dan
lain sebagainya. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran mempunyai peranan
yang sangat penting dalam pembelajaran, tanpa aktivitas belajar itu tidak
mungkin berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam proses belajar dan
pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam
mengikuti pelajaran, bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar,
berfikir, membaca dan segala kegiatan yang dilakukan, yang dapat menunjang
prestasi belajar.
Banyak macam kegiatan yang dapat dilakukan siswa disekolah tidak
hanya mendengarkan atau mencatat seperti yang lazim terdapat di
sekolah-sekolah, tetapi juga dapat melakukan berbagai kegiatan yang positif
lainnya.
Aktivitas tersebut sangat erat kaitannya, J.Pieget (dalam Rohani
2004:7) berpendapat “Seorang anak berfikir sepanjang ia berbuat tanpa berbuat
anak tak berfikir. Agar ia berfikir sendiri (aktif), ia harus diberi kesempatan
untuk berbuat sendiri”.
Sehubungan aktivitas Diedrich (dalam Sardiman 2007:101)
mengungkapkan suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara
lain dapat digolongkan sebagai berikut:
a)
Visual Activities,
yang termasuk di dalamnya misalnya membaca, memperhatikan gambar demonstrasi,
percobaan, pekerjaan orang lain.
b)
Oral Activities,
seperti; menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan
pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c)
Listenig Activities,
sebagai contoh mendengarkan; uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d)
Writing Activities, seperti
menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
e)
Drawing Activities,
misalnya; menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f)
Motor Activities,
yang termasuk di dalamnya antara lain; melakukan percobaan, membuat konstruksi,
model mereparasi, bermain, berkebun, berternak.
g)
Metal Activities,
sebagai contoh misalnya; menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis,
melihat hubungan, mengambil keputusan.
h)
Emotional Activities,
seperti misalnya; menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah,
berani, terang, gugup.
Dari pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam
proses belajar, siswa dituntut untuk aktif, karena aktivitas belajar dapat
mengingatkan prestasi belajar siswa.
Dari pendapat diatas, aktivitas belajar yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.
Memperhatikan
saat guru menjelaskan
b.
Mencatat
dan merangkum konsep
c.
Bertanya
saat guru memberikan kesempatan
d.
Kerjasama
kelompok
e.
Mengerjakan
latihan
f.
Mengkomunikasikan
hasil.
5.
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bukti dari usaha yang dilakukan dalam
kegiatan belajar dan merupakan nilai yang diperoleh siswa dari proses pembelajarannya.
Menurut Hamalik (2001:30) :
“Bukti bahwa seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan
tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan
dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah
aspek. Hasil belajar akan tampak setiap perubahan pada aspek-aspek tersebut.
Adapun aspek-aspek itu adalah :
a)
Pengetahuan
b) Pengertian
c) Kebiasaan
d) Keterampilan
e) Apreasi
f) Emosional
g) Hubungan sosial
h) Jasmani
i)
Etis
atau budi pekerti
j)
Sikap.
Ella Yulaelawati (2004:110) disebutkan bahwa “Bila peserta didik
telah menguasai kompetensi secara benar, guru dapat menilai sejauh mana minat,
potensi, dan kebutuhan dalam penguasaan kompetensi dasar.”
Sedangkan menurut Mudjiono (2006:20) “Hasil belajar merupakan
puncak proses belajar, hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi
guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengarahan dan dampak pengiring, kedua
dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa”.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah puncak dari proses belajar yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan
percobaan siswa dan umumnya dinyatakan dalam bentuk angka. Hasil belajar siswa
sangat dipengaruhi oleh pembelajaran. Apabila dalam pembelajaran aktif maka
siswa akan memperoleh hasil belajar yang baik.
B.
Kerangka Pikir
Kerangka pikir
adalah hubungan antara variabel bebas (x) dengan variabel terikat (y) dalam
rangka memberikan jawaban sementara terhadap permasalahan yang diteliti. Dalam
penelitian ini hubungan-hubungan antara kedua variabel tersebut adalah
menggunakan model Cooperative Learning tipe Course Review Horay dapat
mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Dimana variabel bebas sebagai pengaruh dan variabel terikat sebagai terpengaruh.
Dalam kegiatan
belajar pelaku utama dalam belajar adalah siswa atau pelajar. Belajar akan
lebih bermakna jika pelajar mengalami apa yang dipelajari bukan mengetahui.
Keberhasilan belajar dapat dilihat dari beberapa faktor, misalnya dengan hasil
belajar yang baik, hasil belajar dapat ditentukan oleh aktivitas yang dilakukan
siswa.
Dalam kaitan ini
berdasarkan latar belakang masalah serta mengacu kepada teoritis yang penulis
kemukakan maka guru dapat menggunakan model Cooperative
Learning tipe Course Review Horay untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan memacu kreativitas
ataupun aktivitas siswa serta menumbuhkan semangat belajar siswa. Pembelajaran
tipe ini lebih menekankan pada proses kerjasama dalam kelompok. Untuk lebih
mempererat hubungan dalam kelompok, siswa diminta untuk menciptakan sorak khas
kelompok.
Pembelajaran dengan
menggunakan tipe ini, siswa harus dikelompokan dengan setiap kelompok terdiri
dari 4-5 siswa dimana siswa dalam satu kelompok terdiri dari siswa pandai,
siswa sedang, dan siswa yang kurang pandai, maka tidak akan terjadi kesenjangan
antar satu kelompok dengan kelompok lain.
Tipe Course Review Horay diharapkan dapat menciptakan pembelajaran
yang kondusif, inovatif dan kreatif. Sehingga dapat merubah suasana belajar di
dalam kelas lebih aktif dan mengedepankan kerjasama antar siswa dalam
pembelajaran. Pengajaran melalui pembelajaran dengan tipe Course Review Horay diharapkan menjadi alternatif pengajaran
matematika yang efektif.
C.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah dengan penerapan Cooperative Learning tipe Course Review
Horay dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas
VIIE semester genap SMP 2 Kotagajah Tahun Pelajaran 2010/2011.
BAB III
METODELOGI
A.
Rancangan Penelitian
1.
Variabel Penelitian
Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VIIE SMP 2
Kotagajah mata pelajaran Matematika pokok bahasan Fungsi, bangun ruang Semester
Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.
Guna menentukan langkah selanjutnya dapatlah penulis kelompokan
variabel penelitian ini sebagai berikut:
a)
Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah Cooperative
Learning tipe Course Review Horay Kelas VIIE SMP 2 Kotagajah Tahun
Pelajaran 2010/2011.
b)
Variabel
terkait dalam penelitian ini adalah aktivitas dan hasil belajar Kelas VIIE SMP
2 Kotagajah Tahun Pelajaran 2010/2011.
B.
Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian tindakan, di mana
penelitian tindakan merupakan intervensi berskala kecil yang dilakukan untuk
memperbaiki cara kerja suatu program kegiatan secara nyata dan lapangan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan bagian dari penelitian tindakan.
Istilah PTK diajukan oleh beberapa ahli diantaranya oleh Hopkins (dalam
Wijaya.2004:6), yaitu: “tindakan yang diambil guru untuk meningkatkan dirinya
dan teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan di dalam
praktek”.
Pelaksanaan penelitian tindakan ini dilakukan proses perbaikan
secara berulang (siklus), sehingga dari siklus pertama, kedua dan seterusnya
bertujuan untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran.
Menurut Arikunto (2006:16) terdapat empat tahapan yang lazim
dilalui yaitu :
1.
Perencanaan
2.
Pelaksanaan
3.
Pengamatan
4.
Refleksi
1)
Perencanaan
Tindakan
Sebelum melakukan proses belajar mengajar telebih dahulu penulis
merencanakan penyiapan perangkat alat pembelajaran seperti: Rencana
Pembelajaran (RP) dan menyiapkan materi, membagi siswa ke dalam
kelompok-kelompok kecil, alat tes dan lembar observasi.
2)
Pelaksanaan
Tindakan
Pada tahap ini dilakukan tindakan-tindakan sesuai dengan
langkah-langkah tindakan yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya. Pada
waktu yang sama, penelitian melakukan pengamatan terhadap jalannya tindakan
tersebut.
3)
Pengamatan/Observasi
Pengamatan adalah mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan
dengan pelaksanaan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
pelaksanaan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya
sehingga dapat dijadikan landasan melakukan refleksi.
4)
Refleksi
Dari
hasil tes dapat dilakukan analisis untuk menentukan kemajuan dan kemunduran
yang terjadi dalam kegiatan pembelajaransebagai dasar perbaikan
siklus-siklus berikutnya.
Langkah-Langkah
Penelitian
Berdasarkan metode penelitian di atas, maka dalam pelaksanaanya
pembelajaran dilaksanakan dalam siklus, dimana setiap siklus masing-masing 3 kali
pertemuan dan pada setiap siklus dari 4 tahap, yaitu: Perencanaan tindakan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Model penelitian tindakan kelas (PTK) yang digunakan dalam
penelitian ini mengikuti model Hopkins (dalam Aqib 2006:31) yaitu proses
pengkajian berdaur empat langkah, seperti tampak pada gambar berikut:
Penelitian Tindakan Kelas Menurut
Hopkins
Adapun
langkah-langkah kegiatan dari tiap siklusnya adalah sebagai berikut:
Siklus I
1.
Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan ini sebagai berikut
a)
Menetapkan
kelas penelitian Kelas VII B SMP Negeri 2 Kotagajah Tahun Pelajaran 2010/2011
b)
Menetapkan
konsep/pokok bahasan materi pelajaran yang dibahas adalah Bangun Datar.
c)
Mempersiapkan
sumber belajar
d)
Membuat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus, alat tes, dan lembar observasi
e)
Mempersiapkan
media pembelajaran.
2.
Tahap Tindakan
|
A.
Tahap
Pelaksanaan
|
||||||
|
No
|
Langkah-langkah
|
Kegiatan Guru
|
Kegiatan
siswa
|
Alokasi waktu
|
||
|
1
|
Pendahuluan
1.
Pembukaan
2.
Penyampaian
tujuan pembelajaran serta memberikan motivasi dan apersepsi
|
1.
Membuka
pelajaran
2.
Memberikan
motivasi, apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan
dilaksanakan dengan menggunakan metode Kooperatif Learning tipe Course Review Horay
|
1.
Bersama
guru membuka pelajaran.
2.
Mendengarkan
informasi dari guru tentang tujuan pembelajaran dengan menggunakan metode
Kooperatif Learning tipe Course Review
Horay.
|
7
menit
|
||
|
2
|
Kegiatan Inti
1.
Menyampaikan
materi pelajaran
2.
Tanya
jawab
3.
Pengelompokkan
4.
Pengajuan
Pertanyaan
5.
Pemberian
jawaban (answering)
|
1.
Menjelaskan
materi pelajaran
2.
Memberi
tanya jawab
3.
Mengelompokkan
siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang secara
heterogen
4.
Membaca
soal secara acak
5.
Menunjukan
kelompok untuk menjawab pertanyaan
|
1.
Memperhatikan
penjelasan guru
2.
Melakukan
tanya jawab
3.
Berdiskusi
dengan kelompok yang ditetapkan guru.
4.
Menulis
jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung
didiskusikan
5.
Siswa
menyampaikan jawaban untuk seluruh kelas. Jika jawaban maka kartu ditulis
tanda (√) dan siswa bersorak horay (2x) dan jika jawaban salah maka kartu
ditulis tanda (x) dan siswa bersorak horay (1x)
|
43
menit
|
||
|
3
|
Penutup
1.
Kesimpulan
2.
Evaluasi
3.
Penutup
|
1.
menyimpulkan
materi pelajaran
2.
memberikan
soal tes pada akhir siklus
3.
menutup
pelajaran
|
1.
bersama
dengan guru menyimpulkan materi pelajaran
2.
mengerjakan
soal tes yang diberikan oleh guru.
3.
Bersama
guru menutup pelajaran.
|
30
menit
|
||
3. Observasi
a)
Observasi
dilakukan sejak proses belajar mengajar
mulai berlangsung di kelas.
b)
Membagikam
lembaran tes untuk mengetahui tingkat keberhasilan Cooperative Learning tipe Course Review Horay. Pada tahap ini tidak
duduk berkelompok
4. Refleksi
Dari hasil tes dapat dilakukan analisis untuk menentukan kemajuan
dan kemunduran yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran sebagai dasar perbaikan
siklus-siklus berikutnya.
C.
Pengukuran Kemantapan Alat Pengukur Data
1.
Validitas
Validitas adalah ketelitan alat ukur data dalam informasi data yang
diperlukan. Menurut Arikunto (2003:65) menyatakan bahwa”Validitas sebuah tes
dapat diketahui dari hasil pemikian dan hasil pengalaman”. Sedangkan menurut
Nurkancana (1983:127) “suatu alat dikatakan alat pengukur yang valid apabila
alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat”.
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa indikator
validitas adalah ketepatan atau kemantapan dimana pengukuran sesuai dengan yang
akan diukur.
Arikunto (1987:61) mengemukakan ada empat macam validitas, yaitu:
1)
Validitas
isi (content validity)
Sebuah
tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusu tertentu
yang sejajar dengan materi atau isi yang diberikan.
2)
Validitas
kontruksi (Counstruct validity)
Sebuah
tes dikatakan memiliki validitas kontruksi apabila butir-butir soal yang
membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir.
3)
Validitas
ada sekarang (Concurrent validity)
Dikatakan
validitas “ada sekarang” apabila hasilnya sesuaidengan pengalaman.
4)
Validitas
prediksi
Dikatakan
validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk memprediksikan apa yang
terjadi pada masa yang akan datang.
Dari beberapa alat ukur yang dikemukakan di atas, adapun alat ukur
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah jenis validitas isi (content validity), yaitu validitas yang
didasarkan butir-butir item tes, yang sesuai dengan kurikulum dan
dikonsultasikan dengan pembimbing. Validitas isi berguna untuk menunjukkan
sejauh mana instrumen tersebut mencerminkan isi yang dikehendaki. Jenis
validitas isi untuk mengungkapkan penguasaan konsep Matematika yang terdapat
pada kisi-kisi tes.
2.
Reliabilitas
Reliabilitas menurut Arikunto (2006:178) mengundang pengertian
bahwa “Sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat
pengumpul data karena instrumen itu sudah baik”. Dalam reliabilitas digunakan
untuk mencari keajegan dari instrumen yang akan digunakan dalam tes. Sebelum
tes esai diberikan kepada sampel terlebih dahulu tes diuji cobakan kepada
populasi di luar sampel, kemudian dihitung reliabilitas tes untuk mengetahui
tingkat keajegan tes tersebut.
Reliabilitas menyatakan sampai dimana ketetapan dari hasil
pengukurannya dan tidak terpengaruh oleh siapa saja dan kapan saja dilakukan.
Dalam penelitian ini untuk mencari reliabilitas yaitu dengan menggunakan rumus
Alpha (Arikunto, 2005:108) yaitu:
Keterangan :
n : Banyaknya item soal
Untuk varians butir soal sebagai berikut:
Keterangan:
N =
Banyaknya data
Untuk jumlah varians semuah butir soal sebagai
berikut:
Keterangan:
Untuk varians tabel sebagai berikut:
Menurut Arikunto (1987:68) ada lima
interprestasi kriteria penafsiran atau indeks reliabilitas, yaitu:
1)
Antara
0,80 sampai dengan 1,00 sangat tinggi
2)
Antara
0,60 sampai dengan 0,80 tinggi
3)
Antara
0,40 sampai dengan 0,60 cukup
4)
Antara
0,20 sampai dengan 0,40 rendah
5)
Antara
0,00 sampai dengan 0,20 sangat rendah.
Tingkat keajegan yang diharapkan adalah
memenuhi kriteria cukup, sesuai dengan interprestasi kolerasi. Jika tes
memenuhi kriteria yang diharapkan maka tes tersebut diberikan kepada sampel.
D.
Cara Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari observasi dan tes.
1.
Teknik Observasi
Teknik observasi merupakan suatu cara
pengambilan data penelitian dengan jalan melihat secara langsung terhadap objek
penelitian. Observasi ini digunakan untuk memperoleh data aktivitas belajar
dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Course Review Horay menggunakan lembar
observasi aktivitas belajar dengan cara memberi tanda (
)
untuk siswa yang melakukan aktivitas sesuai indikator yang ditentukan dan untuk
siswa yang tidak melakukan dikosongkan.
2.
Teknik Tes
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar digunakan tes pada
setiap akhir siklus. Soal tes yang diberikan pada setiap siklus berupa tes
berbentuk uraian dengan jumlah 5 soal pada siklus I dan 3 soal pada siklus II.
E.
Teknik Analisis Data
1.
Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif diperoleh dengan melihat aktivitas siswa selama
proses pembelajaran pada tiap siklus dan mencatatnya pada lembar observasi.
Data aktivitas belajar dihitung dalam bentuk persentasi dengan menggunakan
rumus:
P =
(Arikunto: 2000)
Keterangan:
P: Angka persentasi
F: Frekuensi Aktivitas
N: Jumlah Siswa
2.
Aalisa Data Kuantitatif
Untuk mengetahui hasil belajar digunakan post tes kemudian dihitung
rata-rata nilai tes dengan menggunakan rumus:
Keterangan: X = Nilai rata-rata kelas
Ns= Jumlah nilai tes seluruh siswa
N = Jumlah siswa secara keseluruhan
F.
Indikator Keberhasilan
a.
Aktivitas Belajar
Untuk mengetahui aktivitas pembelajaran digunakan lembar observasi.
Adapun indikator yang ingin dicapai untuk aktivitas belajar siswa peneliti
memberikan target sebagai berikut:
|
No.
|
Indikator
|
Target
|
|
1
|
Memperhatikan
saat guru menjelaskan
|
90%
|
|
2
|
Mencatat
dan merangkum konsep
|
75%
|
|
3
|
Bertanya
pada saat guru memberi kesempatan
|
5%
|
|
4
|
Aktif
berdiskusi
|
50%
|
|
5
|
Mengerjaka
latihan
|
85%
|
|
6
|
Mengkomunikasikan
hasil
|
15%
|
b.
Hasil Belajar
Data kuantitatif untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa
setelah dihasilkan penerapan melalui Cooperative Learning tipe Course Review
Horay yaitu siswa yang mendapat nilai diatas 75 pada siklus I minimal 50% dan
pada siklus akhir minimal 60%. Yang diambil dari hasil belajar, ketuntasan yang
dimaksud dalam penelitian ini diambil
dari hasil belajar. Data hasil belajar merupakan data yang diperoleh
dari hasil tes yang dilakukan pada setiap awal dan akhir siklus.



0 comments:
Post a Comment